Kamis, 25 Februari 2010

"...Menjadi Pribadi yang Baik Saja Tidak Cukup, Sobat..."

Ada sebuah cerita lama yang beberapa hari ini kembali memaksaku berpikir. Kisah yang pernah kualami dalam sebuah perjalanan dari Jakarta menuju Bandung, Juli tahun 2006 silam. Sebuah travel, yang melaju kencang dengan penumpang diriku dan seseorang yang bagiku cukup spesial itu, sepertinya bukan kisah biasa. Seorang lelaki separuh baya, yang cukup mirip dengan seorang presiden yang paling dikahwatirkan oleh dunia barat itu, menjabat tanganku erat. Ia baru pulang dari Singapura. Dirinya lebih dari sepuluh tahun sudah berdomisili di sana dan kebetulan pulang kampung : Bandung.
Aku lupa namanya, tetapi aku belum bisa melupakan kata-kata yang tegas sarat makna. Suaranya yang rada serak, bercerita panjang tentang kehidupan demokrasi lintas-dunia, pergerakan mahasiswa hingga isu anti korupsi. Aku tahu, dia bukan sembarangan orang. Kaya dengan referensi, rasional dan membumi. Konon lagi ketika dia akhirnya tahu, setelah aku bercerita bila aku akan menghadiri pertemuan nasional sebuah kementerian yang terkait isu ini di Bandung. Ia diam dan memandangku begitu dalam.
Hujan turun berlahan, membasahi kaca mobil yang sebelumnya kepanasan. Aku tak banyak bicara, hanya mencoba menjadi pendengar yang baik baginya. Bahkan sampai aku sempat tertidur, dan anehnya dia membangunkanku dengan senyum. Dirimu kelelahan, Abdul? Sapanya lembut sambil menawarkan air mineral dalam botol sedang itu. Aku menjawab tidak sambil membalas senyumnya itu.
Kota Bandung tinggal beberapa kilometer lagi. Entah apa maksudnya, ia kembali menjadi sosok yang misterius bagiku, sampai saat ini. Apalagi kata-kata itu kini kembali menyeretku pada fakta hidupku sendiri. Atau mungkin, Anda salah satunya.
Sambil memegang bahuku, pria yang aslinya dari Solo itu berujar pelan. Suasana semakin hening, suara azan Magrib sayup-sayup terdengar pelan.
”Abdul, terserah kamu mau percaya atau tidak. Suatu saat nanti, kau harus siap menjadi diri yang menyingkir, atau disingkirkan. Saat-saat demikian, yang terjadi adalah surplus keegoan yang begitu melebar. Saat demikian, jangan pernah kau harap akan ada ketulusan, kesetiaan, apalagi pengorbanan yang ingin kau dapati dari orang-orang sekelilingmu. Karena menjadi ”pribadi yang baik saja” tidak cukup, Abdul.
Aku terdiam, tiada suara. Dan aku tak tahu pasti atas maksud apa seseorang yang kukenal dalam travel itu mengajakku diskusi soal kehidupan. Soal ketulusan, pengorbanan, kesetian dan demokrasi, dan kata-kata lain yang mirip dengan itu semua. Aku kembali tersenyum, dan menyalaminya kembali. Pamit, aku lebih dulu tiba di sebuah penginapan. Beberapa saat kemudian, travel itu pun menghilang dalam sibuknya jalan raya kota Bandung.
***
Setelah lebih dari tiga tahun lamanya, cerita antara Jakarta – Bandung itu kembali ”mengusik” perjalanan hidupku sebulan terakhir. Konon lagi ketika kudengarkan kisah-kisah insan sekitarku. Aku sadar bila itulah hidup. Betapa pun bersarnya surplus keegoan, bukan halangan bagi diriku, Anda dan kita semua untuk tetap berbuat yang terbaik. Ikhlas menebarkan kebaikan untuk orang-orang terdekat, insan-insan terbaik yang telah mengisi diary-diary kehidupan kita.
Bila boleh saya mengajak kita semua untuk kembali merenung sejenak. Kita mesti sadar, bila
”Baik Saja, Tidak Cukup”. Karena memang faktanya, tidak sedikit orang-orang yang dikenal baik, yang kita temui dalam kehidupan ini, ternyata mereka tersisih, memungut sendiri kelukaaan. Tapi apakah tujuan hidup untuk ditempatkan dalam dongeng-dongeng penuh sanjungan? Saya yakin, bukan. Perjalanan hidup bukan untuk menjadi kisah dongeng, tetapi fakta yang dibentuk dan dipengaruhi oleh apa yang kita pikirkan sendiri.
Jika kita sadar, bila ”Baik Saja, Tidak Cukup” maka janganlah bersedih ketika jam dinding berhenti berputar karena ada asa yang kandas. Ada harapan yang belum tercapai. Ada kerinduan yang tiba-tiba basah dan terseret air bah secara tiba-tiba. Tiada jawaban yang diharap. Sirnanya janji-janji yang di lain hari berubah dusta, meski tiada diakui sebagai kebohongan menyakitkan. Ada puluhan alasan dengan dalih begitu rasional, padahal wajah dari keegoan.
”Baik Saja, Tidak Cukup”. Setiap pribadi yang matang dengan kedewaasan diri tentu selalu siap untuk tersingkir, atau malah disingkirkan. Di saat itu telah menyatu dengan diri, sebenarnya kita adalah pribadi yang sedang menuju surplus kesabaran. Tetaplah tersenyum, dan teruslah menjadi ”Pribadi yang Baik”. Biar pun semua itu tak mengubah keputusan atas harapan. Tak mungkin mengoreksi lagi persepsi-persepsi semu yang dibangun dengan logika belaka.
Teruslah menjadi pribadi yang baik. Mengumpulkan pundi surplus jiwa besar dalam hidup. Lalu biarkanlah kerinduan yang telah mengepung jiwa, luruh dan basah kuyup dalam hujan malam ini.
Tanjung Slamat,
5 Januari 201019.54 WIB

CINTA DALAM PERSAHABATAN : DERETAN KATA YANG MEMBUATKU MASIH TERSENYUM (Catatan di Sebuah Warung Kopi, Sudut Kota Tua)

Siapa yang bisa torehkan dugaan dalam asa,
di saat kesunyian yang bergerak, merangkak pelan
dari satu atma ke atma yang lain,
akhirnya terhenti:
nafas tertahan lama dalam rongga
ada beberapa jiwa yang ingin merengkuh satu asa yang sama.

Kisah yang kusaksikan malam ini,
begitu sering kudengar,
bahkan ketika diriku di bangku sekolah
para pujangga yang ingin merebahkan diri
dalam satu hati

Nafas itu, karena dalam lilitan persahabatan
ada yang terkulai
meski puluhan, atau mungkin ribuan pesan
telah berubahnwujud menjadi bahasa kalbu
tapi keduanya tak saling bicara dari dulu.

Adakah yang salah?
ketika mereka yang selama ini
tersenyum, bercerita dan saling bergandengan tangan
suatu waktu
melewati aliran sungai nan deras, dengan air menguning
dengan perahu yang merayap sunyi di tengah malam
akhirnya bertemu di ujung muara
dengan tujuan pijakan tepian di batu yang sama?

Akh, aku merasa berduka dengan cerita ini
di ujung meja, dengan secangkir kopi yang semakin dingin
dan asap rokok yang kian liar menutup wajahku
sembari aku berpura-pura,
seperti harus buru-buru membaca sebuah pesan
dari handpoheku.

Kulihat wajah mereka yang saling utarakan isi hati
memerah, atau (mungkin) akan ada butiran air mata
yang sengaja ditahan, agar terjatuh
aku merasakan itu begitu dalam, sambil mencicipi pisang goreng
di warung kopi, sudut kota tua.

Selama akan tetap ada perahu jiwa yang ingin ikhlas
siapa pun yang pertama, membuktikan keseriusannya
atau malah yang punya kepercayaan
untuk bersama di tepi sungai itu
tetaplah jadi sahabat sejati
karena semuanya hanya karena waktu saja!

Hampir empat jam aku di sini
malam pun telah merambat,
dalam deruan kendaraan yang penuh sesak.

Aku lagi-lagi berharap
agar kata yang masih membuatku masih tersenyum
kata cinta dalam persahabatan,
masih kutemui dalam aliran sungai ini
dengan puluhan perahu yang lain,
yang mungkin tak kutemua malam ini.


25 Desember 2009, 21.10 WIB

GORESAN DIAKHIR TAHUN (Catatan Na Tina : Untuk Seseorang yang Sedang Tersenyum)

Hari-hari dalam rumah 2009, pelan-pelan menutupkan pintunya,
teramat singkat yang terasa, tapi tak perlu kutertawakan diri,
atau membiarkan buliran air mata melukiskan cerita luka
memahatkan kisah di atas wajah ini.

Januari baru akan memperlihat rupanya,
dan aku masih di sini, menorehkan impian yang berantakan
setelah ratusan hari berharap
semua kandas, lesukan darah dalam nadi.

Hari-hari baru pun akan merekah
menjadi semangat biru
mengukuhkan rasa ini setelah seseorang yang hadir tiba-tiba,
bak mengetuk pintu kamarku dalam keheningan
aku membalasnya tanpa kata-kata.

Akhir tahun akan merekamkan jejak
dalam ribuah pesan yang terhapuskan
aku seperti layu penuh, air tumpah dalam gelas keraguan.

Pagi dan malam panjang, dalam warna baru bakal menjelang
ingin kutancapkan diri, berdiri kokoh seperti gunung yang menghujam
ke perut bumi paling dalam
menanti senyum (lagi), mengubahnya menjadi nyata
dalam rumah kerinduan sepanjang waktu.

Tahun baru, tahun pertaruhan dan pergumulan waktu
dari seseorang, untuk seseorang
yang datang dari ujung pulau, kini hadir menepi

Catatan ini, catatan hati seorang na tinta
untuk kehidupan dan keabadian senyuman.

31 Desember 2000
Lamgugob 7 : 14.53 WIB

Kehilangan (yang Tak) Kuharapkan

Ada deretan kata yang sulit kuungkapkan
dalam pelataran hati yang terbingkai janji
waktu semakin jauh meninggalkan diriku
sendiri, tiada jawaban lagi
saat tanya demi tanya terlempar jauh dari dinding malam.

Jujur, tak kuharapkan (bakal) kehilangan ini
percikan asa yang terendam dalam keegoan
semoga bukan (sebab) itu
aku tak hendaki, tak pernah ingin kudengar lagi
biarlah semua jadi kisah terakhir.

Bila seekor kupu-kupu kecil diterima di tengah sabana
hanya karena iba yang tak sanggup lagi terbang
menari-nari di bumi
lepaskan ia segera dari kepungan angin kencang
biar dirinya terbang, meskipun akan jatuh
tak bangkit lagi.

Karena aku kupu-kupu yang akan terus terbang,
menembus waktu
menghilang dari pandangan.

Teramat sulit berjalan dalam sunyi
meski ribuan pesan telah terorehkan dan bicara hati
semua itu bakal menepi,
karena diterima belum tentu diharapkan, bukan?

Setiap kehilangan, apa pun itu
harus kusambut dengan ikhlas,
sikap kesatria cinta dan jiwa
yang pernah diajarkan ayah dan ibu
ketika menemukanku suatu hari
menangis tersedu-sedu, karena kaki berdarah
tersandung batu, 23 tahun yang lalu.

Dan tiada terasa, kini Oktober ini pun segera berakhir,
bulan bahagia yang tak kutemui untaian kata
aku terlupakan dalam jejak waktu.

Waktunya telah tiba,
aku harus bersiap-siap berangkat,
menepi di sebuah persimpangan
pelabuhan kehidupan,
menjemput bakal kehilangan (yang tak) kuharapkan.

Aku akan memilih untuk segera menepi
memberikan ketetapan, agar aku tak jadi penghalang
meraih semua impian,
yang dengan sang kupu-kupu patah sayap
semua itu tak akan mampu diraih.

Dunia ini kembali menuliskan kisahnya
Kisah tragis untuk seorang pemuda:
”Jangan pernah berharap,
untuk menanti mimpi berubah wajah menjadi cita-cita,
ketika rel kereta kehidupan tak di pahami dalam satu kata”

Hening, di malam yang jauh sepi.

Tanjung Slamat, 24 Oktober 2009
Dini Hari, 02.25 WIB

Senin, 07 September 2009

Ramadhan; Pendidikan Spritual Melawan Korupsi

Sadar atau tidak, banyak diantara kaum muslimin yang terjebak untuk berjuang sekuat tenaga agar dapat tidak korupsi, dan sejenisnya hanya ketika bulan Ramdahan. Padahal sikap tersebut bukan hanya haram di bulan suci ini saja sehingga di sebelas bulan selanjutnya kita bebas berbuat curang. Ini hanya sekedar renungan bersama bila ”Ramadhan” seyogyanya tetap ada sepanjang tahun. Sebuah perjalanan spiritual yang dihubungkan dengan buruknya moralitas bangsa, khususnya Aceh yang tingkat korupsinya masih lumayan tinggi. Ada apa ini, di tengah berjibunnya umat Islam di Aceh? Mengapa ini terus terjadi, padahal setiap saat pelaku pemerintahan, hingga kita sebagai rakyat biasa terus berpuasa Ramadhan, setiap waktu bersujud di rumah Allah SWT? Akan tetapi, praktik kecurangan terus bertebaran di mana-mana! Di kantor pemerintah, di pasar, di sawah, di warung kopi hingga ke tempat-tempat berdimensi agama sekalipun.

Gugat Jiwa Kita
Di luar agenda penegakan hukum yang dilakukan pemerintah, korupsi harus dipandang sebagai salah satu agenda moral masyarakat. Artinya, pemberantasan korupsi tidak saja dengan cara memberikan hukuman kepada koruptor namun lebih penting dari itu adalah bagaimana membangun kultural yang mampu menghilangkan jalur merebaknya nilai-nilai korupsi. Usaha untuk membangun kesadaran sosial agar menolak segala praktik curang di segala tingkatan sosial dalam masyarakat, cukup penting dilakukan.

Masih tingginya korupsidi Aceh, menunjukan betapa selama ini kita selaku muslim tidak terlalu ambil pusing terhadap kejahatan korupsi. Ternyata, saya melihat tidak ada hubungan keselehan dalam keberagaman dengan pengurangan kejahatan korupsi ketika semuanya masih sebatas ”ritual” saja! Sholat rajin, korupsi juga jalan terus. Puasa oke, rampok uang negara tak juga berhenti. Artinya, tidak ada kelemahan dalam Islam-nya, tapi yang jadi permasalahan adalah kualitas ”iman” seorang muslim yang terjangkit banyak virus jahat dalam jiwanya.

Islam memiliki ragam mekanisme yang cukup komprehensif untuk membangun kesadaran moral agar benar-benar menolak setiap praktik korupsi, sekecil apa pun. Salah satunya adalah Ramadhan. Bulan ini datang untuk mensucikan manusia, mulai dari fisik hingga prilaku, karakter atau watak ummatnya. Ramadhan adalah ”kampus rehabilitasi spritual”. Akan tetapi, pesan ajaran Islam pun masih dipahami secara normatif bahwa Islam melarang korupsi saja. Dan pada saat yang sama, posisi ulama, pesantren, kampus-kampus ”spritulal” buatan manusia, dan segala perangkat sejenisnya masih belum maksimal dalam mengaktualisasikan pesan moral agama, khususnya dalam hal penangan penyakit korupsi tersebut.

Khusus untuk Aceh, menurut saya kita nampaknya lebih ”enjoy” dengan penegakan syariat Islam yang berkutat pada bungkusan khalwat, judi, minuman keras. Kita memberikan ”cambukan” bagi pelakunya. Sekali lagi, saya tidak anti syariat, karena itu juga sebagai bagian dari komitmen kita sebagai seorang muslim! Namun alangkah arifnya apabila kita juga serius untuk merealisasikan syariat yang bukan hanya untuk wong cilik saja! Rakyat kecil bertanya : bukankah wong licik (semisal para koruptor) sebagai penjarah uang rakyat harus diberikan pelajaran setimpal dalam dimensi syariat?

Puasa dan Pendidikan Anti Korupsi
Puasa Ramadhan adalah puasa yang dilakoni muslim dengan panggilan Allah SWT melalui Surah Al-Baqarah ayat 183 : ”Hai orang-orang beriman, diwajibakan atas kamu berpuasa sebagaimana yang telah diwajibkan kepada umat-umat sebelum kamu, semoga kamu bertaqwa”. Ayat Allah SWT ini pun berkaitan erat dengan sabda Rasullulah bila ”begitu banyak orang yang berpuasa namun ia tidak mendapatkan pahala apa-apa, melainkan lapar dan dahaga saja”.

Nah, apabila setiap pribadi muslim, terpanggil untuk menunaikan ibadah puasa kerena cahaya iman , niscaya ia tidak akan sekedar mendapatkan haus dan lapar dari puasanya itu, melainkan juga akan mendapatkan sebuah benteng kejujuran batin yang tidak ada bandingannya. Benteng kejujuran yang mampu mendidik dia untuk menjadi pribadi yang takut kepada Allah SWT di mana pun ia berada. Andai ia menjadi pejabat negara, maka ia akan dan tetap menjadi pejabat negara yang bersih. Bila ia menjadi wakil rakyat, maka ia pun adalah sosok yang jujur dan bebas dari korupsi. Bila jadi petani, akan menjadi petani yang jujur. Menjadi pedagang, maka akan menjadi seorang pedagang yang jujur. Intinya, kita semua menjadi pribadi yang jujur!

Orang berpuasa, tantangan terbesar adalah ketika kejujurannya dipaksa bertarung dengan segala bentuk keinginan yang kebanyakan pada bulan lainnya adalah halal. Bayangkanlah ketika sepiring nasi yang halal, miliknya sendiri, tidak akan dimakannya ketika puasa karena ia harus jujur kepada Allah SWT, Malaikat dan Rasul-Nya. Ia tetap sabar hingga waktu imsa’ tiba. Sepasang suami isteri (maaf,) juga harus menahan nafsu birahinya ketika siang hari karena itu adalah haram. Mereka berjuang dengan kejujuran kepada Illahi, meskipun mereka telah akad nikah. Mereka berdua tetap tabah menunggu hingga waktu malam menjelma.

Banyak petani yang tidak ”mencuri” air dari sawah petani yang lain. Para pedagang yang menjual barang-barang di pasar terlihat jujur dan lebih sopan dalam melayani pembeli. Timbangan barang diperhatikan seakurat mungkin. Pegawai pemerintah terlihat memberikan pelayanan lebih maksimal kepada masyarakat di bulan Ramadhan. Kata orang, tidak ada ”kutipan”, ”uang kopi”, atau ”pelicin” untuk proses administrasi. Semuanya berjalan dengan baik. Pertanyaan, apakah ini hanya berlaku di bulan Ramadhan?

Penutup
Allah SWT menguji sekaligus memberi pelajaran kejujuran yang luar biasa dalam Ramadhan. Tidak ada kurikulum pendidikan di dunia yang mampu menandingi proses pembentukan kejujuran seperti ini. Kita bisa menahan diri dari sesuatu yang halal, namun mengapa ketika puasa usai kita tidak dapat melawan sesuatu yang sudah jelas-jelas haram hukumnya? Apakah nilai-nilai kejujuran ini akan bertahan ketika Ramadhan telah pergi? Apakah pula, puasa tahun ini juga akan memperbaiki jati diri kita untuk lebih jujur, menolak setiap praktik kecurangan?

Saya berlindung kepada Allah SWT, semoga saya tidak hanya mengajak muslim yang lain agar konsisten dengan nilai-nilai kejujuran yang Insya Allah SWT akan kita raih di ujung Ramadhan nanti. Akan tetapi, dengan izin-Nya, semoga saya tetap konsisten di jalan ini. Karena, Allah SWT dengan tegas menyebutkan dalam Al -Qur’an: ”Janganlah kamu mengatakan apa yang tidak kamu sendiri tidak perbuat. Sesungguhnya sangat besar azhab Allah SWT kepada mereka yang berprilaku demikian”. ***

Note: Tulisan ini disadur kembali dari tulisan penulis yang sudah pernah dimuat di Kolom Opini Harian Serambi Indonesia, edisi 16 Oktober 2006 dengan judul “No Corruption in Ramdhan”. Hasil saduran ini sudha dimuat dalam Bulletin "PEUTRANG" yang diterbitkan oleh Perkumpulan Meumada, September 2009

Sabtu, 29 Agustus 2009

“Bersyukurlah"


Andaikan suatu ketika kamu memancing ikan di sebuah kolam, setelah ikan itu terlekat di mata kail, hendaklah kamu mengambil ikan itu. Janganlah sesekali kamu lepaskan ia kembali ke dalam air begitu saja karena ia akan sakit akibat ketajaman mata kailmu. Dan mungkin ia akan menderita selagi ia masih hidup. Begitulah juga setelah kamu memberi banyak pengharapan kepada seseorang. Setelah ia mulai mencurahkan pengorbanan untukmu, hendaklah kamu menjaga kepercayaannya. Suatu ketika dia akan terluka oleh kenangan bersamamu. anganlah sesekali kamu meninggalkannya begitu saja tanpa ada alasan yang kuat dari rasional. Ingat: dengan alasan yang kuat dan rasional..!!

Bila dirimu menadah air biarlah berpada, jangan terlalu mengharap pada takungannya dan janganlah menganggap ia begitu teguh. Cukuplah sekadar keperluanmu. Apabila sekali ia retak, tentu sukar untuk kamu menampalnya semula. Akhirnya ia dibuang. Sedangkan jika kamu coba memperbaikinya mungkin ia masih dapat dipergunakan lagi.

Begitu juga jika kamu memiliki seseorang, terimalah seadanya. Janganlah kamu terlalu mengaguminya. Dan janganlah kamu menganggapnya begitu istimewa. Anggaplah dia manusia biasa. Apa adanya. Apabila sekali dia melakukan kesilapan bukan mudah bagi kamu untuk menerimanya. Akhirnya kamu kecewa dan meninggalkannya. Sedangkan jika kamu memaafkannya boleh jadi hubungan kamu akan terus berjalan hingga ke akhirnya. Ingatlah, tiada manusia yang sempurna di dunia fana ini.

Semua ini juga harus dirimu terapkan dalam pergaulanmu sehari-hari, dengan siapa pun itu. Ingat, dengan siapa pun, jangan membanding-bandingkan seorang sahabat dari pangkatnya, jabatannya, status sosialnya, atau wajahnya. Semua orang punya kebaikan dalam jiwannya, tinggal bagimu saya bagaimana melihat sisi kebaikan itu.
Jika kamu telah memiliki sepinggan nasi yang kamu pasti baik untuk dirimu. Mengapa kamu berlengah, coba mencari makanan yang lain. Terlalu ingin mengejar kelezatan. Kelak, nasi itu akan basi dan kamu tidak boleh memakannya. Kamu akan menyesal. Mengapa kamu tidak bersikap qana’ah? Merasa cukup dengan pemberian Allah? Dalam segala hal, hendaknya kamu bersikat begitu! Bila tidak, sungguh sepanjang umurmu, batin akan terus mengejar nafsu tak terkira. Dan sana tiada bahagian yang dirimu raih. Semua akan menjadi semu.

Sering kita sedih karena tidak bisa membeli baju baru dalam kurun waktu tiga bulan, atau enam bulan sekali. Tidak jarang kita putus asa karena tidak mendapatkan makanan lezat di akhir pekan. Dan berkeluh kesah karena belum mendapatkan prestasi dan pekerjaan yang mapan. Kita lupa, atau sengaja tak mengingat tentang nasib orang-orang lain di sekitar kita. Banyak saudara kita yang sepanjang tahun tak mampu membeli baju baru (sedangkan kita terus menumpuk baju baru, sehingga lemari pun tak sanggup lagi menampungnya). Makanan mereka jauh dari standar gizi yang baik. Nasib mereka jauh dari prestasi dan pekerjaan yang layak. Tapi mengapa dirimu masih berkeluh kesah dalam hidup? Dimana rasa syukurmu kepada Rabbi?

Begitu juga jika kamu telah bertemu dengan seorang insan yang pasti membawa kebaikan kepada dirimu. Mengapa kamu berlengah, coba membandingkannya dengan yang lain. Terlalu mengejar kesempurnaan. Kelak, kamu akan kehilangannya, kamu juga yang akan menyesal. Tiada yang sempuna di dunia ini. Dalam segala hal. Terimalah hidup ini dengan senyum bahagia. Bekerja, berdoa dan bertakwaqal kepada Allah, sungguh sebuah pembuktian seorang hamba-Nya yang pandai bersyukur. Niscaya hidupmu akan penuh dengan kebaikan.

“Goresan kata di atas pada prinspinya dikirimkan oleh seorang sahabatku, sekitar tiga tahun yang lalu. Terima kasih atas seluruh nasehatnya. Dirimu harus yakin bila tiada maksud untuk “mengguruiku”, di sini. Malah aku yang mesti bersyukur kepada Allah karena masih ada sahabat (seorang junior) yang dengan cukup santun telah menegurku”. (Cukup lama sudah tidak bertemu, kapan bisa ngopi bareng lagi d Ulee Kareng?)

Beberapa bagian dalam tulisan ini telah aku revisi, semoga dapat menjadi ibrah juga bagi teman-teman yang membaca tulisan ini. Dan aku telah mencobanya, meski aku akui semua ini sulit kulakukan. Tak seindah goresan kata-katamu itu, sobat...!! Doakan aku untuk terus mampu.


Selasa, 16 Juni 2009

Bila Aku Gelisah Ini Tak Terbaca


Bila aku diterpa gelisah yang tak menentu,
di sana ada tebaran pasir kerinduan beradu dengan ombak ketidakpastian
apakah aku terserat mimpi-mimpi lalu?
atau semua ini hanya permainan angin kebekuan
ketika suara-suara sendu membalut kesunyian jiwa?

Aku hanya berharap gelisah ini tak melingkariku
dari ujung pantai ini hingga seluruh samudera
dari bibir pantai yang ada
dari semua mimpi-mimpi yang pernah terajut
sebelum bersatu dalam kepingan asaku.

Bila gelisah ini tak terbaca,
biarlah aku berlari
dan terus berlari sendiri.

Na Tinta,

16 Juni 2009 : 21.12 WIB